PELATIHAN GURU FASILITATOR PKRS TUNAGRAHITA DAN SESI PARENTING Bersama Yayasan Anak Unik

Pendidikan merupakan hal penting dalam mematangkan dan mengembangkan kepribadian individu, sehingga nantinya peserta didik menjadi manusia yang dewasa, utuh, dan mandiri. Pendidikan diperlukan tidak hanya bagi anak-anak reguler namun juga anak yang memiliki keterbatasan fisik, mental, perilaku dan sosial. Pendidikan yang diberikan tidak hanya sebatas materi sekolah yang perlu dikuasai namun juga kesehatan seksual dan reproduksi. Secara mendasar pendidikan kesehatan seksual dan reproduksi mempelajari tentang bagaimana membedakan perempuan dan laki-laki, bagaimana cara menjaga kesehatan organ reproduksi, dan  bagaimana menjaga diri agar tidak mendapat kekerasan di lingkungan sekitar .

Banyak remaja yang memiliki keterbatasan mendapatkan pelecehan seksual karena mereka tidak tahu mengenai hal tersebut. Selain itu, remaja dengan keterbatasan intelektual juga kerap tidak dapat mengontrol hasrat seksual yang timbul sehingga tidak jarang melakukan masturbasi di depan public. Oleh karena itu, pada tanggal 15-19 Juli 2019 di SLBN 2 Buleleng dan pada tanggal 19-21 Agustus 2019 di SLBN 1 Badung, Kisara PKBI Bali bersama Yayasan Anak Unik melaksanakan pelatihan bagi guru dan sesi parenting bagi orang tua siswa. Tujuan dari pelatihan tersebut ialah untuk membekali  guru dalam proses pengembangkan program-program pendidikan kesehatan seksual dan reproduksi dalam pembelajaran dan/atau pengasuhan yang sesuai bagi peserta didik remaja dengan disabilitas intelektual. Sedangkan bagi orang tua, ini merupakan kegiatan untuk belajar lebih memahami anak-anak mereka dan bagaimana berkomunikasi yang baik dengan anak mereka agar mudah dipahami. Pelatihan ini diikuti oleh 47 guru, 3 perwakilan Disdik Provinsi Bali dan 20 orang tua siswa tunagrahita.

Pada hari pertama, orang tua siswa dibekali mengenai bagaimana mengenali remaja dengan disabilitas intelektual , sedangkan guru-guru dibekali bagaimana mengenal lebih dekat individu dengan disabilitasi intelektual dan memahami keterampilan dalam menjadi pendidik remaja tuna grahita oleh Ibu Marike. Bebagi pengalaman mengenai seni dalam berkomunikasi dengan remaja tuna grahita pentingnya PKRS (Pendidikan Kesehatan Reproduksi dan Seksual) oleh Ibu Gusti.

Pada hari kedua, membahas mengenai pentingnya PKRS bagi remaja tunagrahita, mengenal remaja dan seksualitasnya. Pada hari ketiga, membahas mengenai rencana tidak lanjut sekolah mengenai pelaksanaan PKRS. Dari pihak sekolah sepakat untuk melaksanakan PKRS di sekolah sesuai dengan jam belajar mengajar guru di kelas dan disesuaikan dengan mata pelajaran yang diampu. Untuk orang tua siswa juga akan dibentuk grup online bersama sebagai bentuk memberikan parenting class dan wadah berbagi antar orang tua siswa.

Leave a Replay

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top