Hamil bukan Lelucon

ktd

Wulandari Artha

Relawan KISARA PKBI Daerah Bali

 

Kehamilan terkadang menjadi sebuah berkah bagi suatu keluarga maupun pasangan suami istri. Kehamilan bukanlah lelucon maupun bahan candaan karena kehamilan biasanya telah dipersiapkan kedatangannya baik secara materi maupun non materi. Namun sangat disayangkan bahwa saat ini banyak sekali terjadi kehamilan yang tidak dipersiapkan dan bahkan tidak dikehendaki kehadirannya, terlebih lagi di kalangan para remaja. Para remaja yang memiliki rasa ingin tahu dan selalu ingin mencoba terkadang tidak berpikir secara jauh ke depan terhadap apa yang akan terjadi dikemudian hari. Saat ini banyak sekali remaja yang kelewat batas dalam berpacaran sehingga menimbulkan hal yang tidak diharapkan, seperti Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD).

Seperti hal yang dialami oleh Kadek YW yang berumur 18 tahun dikutip dari okezone.com bahwa ia hamil di luar nikah setelah berhubungan dengan pasangannya, namun sangat disayangkan saat Kadek mengaku hamil sang pacar tidak mau bertanggung jawab dan meninggalkannya begitu saja. Akibatnya, Kadek terpaksa melahirkan sendiri di sebuah toilet dan karena bingung akhirnya ia membuang bayinya (1 April 2016).

Apa itu KTD?

Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD) merupakan kehamilan yang tidak dikehendaki oleh salah satu ataupun kedua belah pihak untuk terjadi saat itu. KTD juga bisa terjadi pada pasangan suami istri yang tidak menginginkan kehamilan pasa saat itu, namun yang menjadi sorotan saat ini adalah kehamilan tidak diinginkan pada para remaja (Purni, 2016).

Kenapa bisa terjadi KTD?

Adapun hal-hal yang bisa menyebabkan terjadinya KTD adalah (Azinar, 2013)

  • Rasa ingin tahu remaja yang selalu ingin mencoba yang terkadang masih labil sehingga tidak berpikir jauh ke depan.
  • Pengaruh pergaulan yang tidak sehat.
  • Pengaruh media informasi dimana saat ini akses internet sangat mudah. Remaja terkadang masih belum mampu untuk menyaring mana informasi yang baik dan buruk untuk dipelajari.
  • Tidak tersedianya informasi yang akurat mengenai kesehatan reproduksi dan seksualitas sehingga remaja mempercayai mitos-mitos yang ada.
  • Kegiatan seksual yang saat ini sudah dianggap tabu dan akhirnya menjerumuskan para remaja karena terlalu terbawa suasana.
  • Orang tua yang kurang pengawasan, perhatian dan pendidikan kesehatan reproduksi sejak dini kepada anak.

Kenapa remaja sangat berisiko untuk KTD?

Menurut Kemenkes RI, remaja memiliki ciri khas dimana selalu ingin coba-coba, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan sangat menyukai tantangan serta cenderung untuk berani mengambil risiko tanpa mempertimbangkan dengan matang terlebih dahulu. Apabila ternyata risiko yang diambil tidak tepat, maka para remaja dapat terjebak dalam keputusan yang salah tidak hanya dalam waktu jangka pendek tetapi juga jangka panjang. Selain itu, para remaja saat ini cenderung mulai berpacaran di usia yang sangat muda dan pada usia tersebut mereka belum memiliki ilmu yang memadai sehingga memungkinkan terjadinya pacaran yang tidak sehat dan berdampak pada terjadinya seks pranikah yang menyebabkan kehamilan tidak dikehendaki.

Saat ini, para remaja juga sangat mudah untuk mengakses informasi di internet terlebih lagi akibat kemajuan teknologi dan globalisasi, para remaja mulai mengenal gadget di usia muda bahkan tidak jarang saat ini anak SD telah memiliki handphone. Hal ini juga kemudian menyebabkan remaja dapat mengakses konten-konten yang berbau seksualitas dan pornografi yang tidak mengajarkan bagaimana mereka untuk bertanggung jawab sehingga para remaja akan mulai untuk mengikuti hal tersebut. Terlebih lagi bila tidak ada pengawasan orang tua maka para remaja akan semakin bebas dan hilang arah untuk melalukan seks pra nikah yang kemudian mengakibatkan kehamilan tidak diinginkan.

Apa saja dampak dari KTD?

Adapun dampak dari KTD menuut Kemenkes RI, yaitu :

  • Masa depan yang suram akibat putus sekolah.
  • Kemungkinan untuk membunuh diri sendiri ataupun janin yang di kandung sehingga menimbulkan perilaku aborsi tidak aman yang dapat menyebabkan kematian baik sang Ibu maupun janin yang di kandung.
  • Tekanan psikologis, malu kepada lingkungan sosial akibat hamil sebelum menikah.
  • Mengakibatkan terjadinya pernikahan usia dini.

Tips mencegah KTD

  • Dekatkan hubungan dengan keluarga dan orang tua sehingga terjalin komunikasi yang efektif antara anak dan orang tua.
  • Lakukanlah kegiatan-kegiatan yang positif.
  • Berani berkata TIDAK, baik kepada teman dalam pergaulan ataupun pacar untuk melakukan hal-hal yang tidak wajar, seperti minum-minum alkohol, seks bebas.
  • Tambahlah wawasan mengenai kesehatan reproduksi dengan bertanya kepada orang atau kelompok yang mengerti, misalnya Kisara.
  • Hindari tayangan / media yang dapat memprovokasi untuk melakukan seks pra nikah.
  • Hati-hatilah dalam memilih dan memilah informasi dari sumber yang tidak jelas atau tidak diketahui kebenarannya.
  • Dan jangan lupa untuk selalu dekatkan diri pada Tuhan.

Bagaimana bila sudah terjadi KTD?

Apabila KTD sudah terjadi maka remaja memiliki dua pilihan, yaitu meneruskan kehamilan atau mengugurkan kehamilan tersebut. Hal pertama yang harus dilakukan adalah memberi tahu keluarga dan orang terdekat sehingga dapat memberikan masukan terhadap tindakan selanjutnya yang harus dilakukan.

Nah apabila memilih untuk mempertahankan kehamilan, maka perlu dipikirkan apakah akan menikah atau mengurus anak sendiri. Dalam hal ini remaja juga perlu menyiapkan diri secara fisik, psikis, sosial dan ekonomi. Namun, bila tidak ingin mempertahankan kehamilan maka remaja perlu mempertimbangkan risiko yang terjadi baik timbulnya rasa bersalah dan penyesalan ataupun terjadinya gangguan atau masalah pada organ reproduksi nantinya sehingga remaja perlu mencari informasi yang akurat mengenai hal tersebut.

Bila KTD telah terjadi maka hal yang sangat dibutuhkan adalah dukungan dari lingkungan terutama keluarga dan orang terdekat sehingga remaja tidak akan merasa kotor dan tidak berharga. Hal ini tentu saja dapat memacu semangat remaja kembali untuk meneruskan dan memperbaiki hidupnya demi masa depan yang lebih baik. Jadi, para remaja mulailah bertanggung jawab pada diri sendiri.

Leave a Replay

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top