REMAJA BISA APA SIH UNTUK MEMERANGI HIV DAN AIDS?

(Sebuah Gerakan Perlindungan HIV dan AIDS bagi Perempuan dan Anak)

Oleh : Jagat Raya

Barangkali aku hanya seorang ibu biasa

Hanya mengerti urusan rumah tangga,

Hanya tahu bagaimana cara membesarkan anak dalam kandungan, dan

jika kelak anak ini lahir,

Aku akan besarkan anakku dengan sejuta mimpi besarnya

 

Kini, apalah artinya aku dan anakku

Jika segala impian harus pupus oleh hasil secarik kertas medis

Ya, aku positif terkena virus yang sering didengungkan itu!

HIV itu telah merasuk pada tubuhku dan anakku

Membuang segala mimpi besarku juga anakku

Apa yang bisa kawan-kawan pikirkan dari sepenggal sajak diatas? Apakah harapan besar seorang ibu terhadap anaknya jika nanti anaknya sudah lahir dan tumbuh besar? Atau barangkali kawan-kawan berpikir sedih melihat kondisi ibu tersebut? Apapun yang kawan-kawan pikirkan, apakah kawan-kawan akan terus bersikap diam untuk memerangi HIV dan AIDS? Apakah kawan-kawan sebagai remaja siap untuk bersama-sama memerangi HIV dan AIDS, minimal pada lingkungan kawan-kawan sendiri sebagai remaja bangsa.

Artikel ini hanya ingin mengajak kawan-kawan sebagai sosok remaja yang siap bergerak dan bersuara lantang untuk memerangi HIV dan AIDS. Pada kesempatan kali ini, kami dari KISARA akan sedikit berbagi mengenai penyebaran dan penularan HIV dan AIDS di lingkungan perempuan dan anak, sekaligus memperingati Hari AIDS Sedunia tahun 2012 yang menyungsung tema: “Lindungi Perempuan dan Anak dari HIV dan AIDS”.

Ilustrasi sajak diatas mungkin bisa menggambarkan bagaimana kondisi HIV sudah tidak lagi berada di lingkungan pekerja seks saja, tetapi sudah kepada perempuan?dalam hal ini ibu?dan anak. Padahal mereka tidak pernah melakukan “jajan” sembarang terlebih lagi melakukan hubungan seks yang tidak aman. Lalu, sempatkah terpikirkan dalam benak kawan-kawan sebagai remaja, dari manakah mereka tertular HIV? Sehingga nanti teman-teman mampu melakukan pergerakan dan bersua lantang untuk memerangi HIV dan AIDS, khususnya perlindungan bagi perempuan dan anak. Baiklah, disini kami akan memaparkan mengenai situasi HIV dan AIDS di Indonesia, khususnya pada perempuan dan anak.

HIV dan AIDS memang sangat sering terdengar di telinga kita semua. Akan tetapi, semua masih sebatas bersikap “teoritis” dan belum banyak remaja pada khususnya bergerak secara aktif dan tegas untuk perang terhadap HIV dan AIDS.  Sedikit mengulas dan merangsang ingatan kawan-kawan mengenai HIV dan AIDS, yakni HIV atau Human Immunodeficiency Virus adalah virus yang berkembang di dalam sistem imun tubuh dan menghancurkannya sel antibodi yang baik. AIDS atau Acquired Immune Deficiency Syndrome adalah kumpulan gejala-gejala penyakit karena menurunnya sistem kekebalan tubuh yang nantinya akan berdampak pada kelemahan dan risiko timbulnya penyakit.

Tahap-tahap orang terinfeksi HIV sehingga akhirnya menjadi AIDS tidak langsung menjadi sakit berat. Pada awalnya gejala-gejala AIDS tampak seperti penyakit lain, tetapi pola perjalanan AIDS mempunyai tanda-tanda spesifik secara bertahap sebagai berikut (PKBI DIY, 2000):

Tahap 1

Virus masuk ke dalam tubuh (tahap infeksi akut), timbul gejala-gejala ringan seperti flu. Orang tetap sehat tetapi dapat menularkan HIV kepada orang lain.

Tahap 2

Terbentuk antibody dalam tubuh (tahap asimtomatik) dalam waktu 6 minggu sampai 1 tahun (rata-rata 2-3 bulan), apabila darah dites dengan tes ELISA, Western Bolt makan akan menunjukkan hasil HIV positif.

Tahap 3

Pembesaran kelenjar getah bening (tahap PGL: Persistent Generalized Limphadenopathy).

Tahap 4

Muncul berbagai gejala yaitu: diare terus menerus, keluar keringat dingin di malam hari, menurunnnya berat badan, infeksi paru-paru seperti pneumonia, infeksi pada usus, kanker kulit (sarcoma karposi), kanker limfoma, dan lain-lain.

Dalam waktu kurang lebih dua tahun setelah gejala klinis muncul, biasanya penderita akan meninggal. Tetapi masing-masing orang tidak selalu sama. Hal ini juga dipengaruhi oleh kondisi kesehatan tubuh si pengidap.

Jika berbicara siapa saja yang akan berisiko tertular HIV dan AIDS, maka jawabannya adalah semua orang. Kerap kali kita semua berpikir bahwa kalangan pekerja seks dan pelanggannya adalah orang yang berisiko tertulas HIV dan AIDS, akan tetapi itu hanya segelintir kenyataan yang terlihat. Bahkan, banyak yang menjudge bahwa kalangan homoseksual yang kemungkinan terbesar menularkan HIV dan AIDS. Sekali lagi kami katakan, semua orang dapat tertular HIV dan AIDS. Dan jika kawan-kawan melihat kembali sajak di atas, bahwa seorang ibu yang hanya mengetahui urusan rumah tangga dan tidak pernah ‘jajan’ sembarangan, bisa tertular HIV dan menularkan pada anaknya yang masih dalam kandungan. Sajak ini pun mewakili bahwa ibu tersebut tertular dari suaminya. Kasus-kasus seperti inilah yang menjadi fokus pergerakan kita sebagai remaja untuk membantu mensosialisasikan informasi mengenai penyebaran dan penularan HIV dan AIDS, khususnya bagi kalangan perempuan dan anak.

Berdasarkan data situasi epidemi HIV dan AIDS di Indonesia menurut Kementerian Kesehatan melaporkan bahwa sejak pertama kali kasus HIV ditemukan yaitu pada tahun 1987 sampai dengan Maret 2012, terdapat 30.430 kasus AIDS dan 82.870 terinfeksi HIV di 33 propinsi di Indonesia. Jumlah kasus HIV tertinggi adalah di DKI Jakarta sebanyak 20.126 kasus. Prosentase kumulatif AIDS tertinggi pada kelompok umur 20-29 tahun (46,0%,). Rasio kasus AIDS antara laki-laki dengan perempuan adalah 2 : 1 (laki-laki : 71% dan perempuan 28%). Selama periode pelaporan bulan Januari hingga Maret 2012, prosentase kasus tertinggi adalah hubungan seks tidak aman pada heteroseksual (77%), penggunaan jarum suntik steril pada penasun (8,5%), dari ibu (positif HIV) ke anak (5,1%) dan LSL (Lelaki Seks Lelaki) (2,7%). Jumlah kasus HIV pada usia dibawah 4 tahun tercatat 547 kasus, sedangkan usia 5 – 14 tahun berjumlah 242 kasus (Buku Pedoman HAS, 2012).

Prioritas upaya penanggulangan secara nasional tetap fokus bekerja untuk dan dengan populasi kunci, dilaporkan juga mengenai jumlah perempuan yang positif HIV yang perlahan-lahan meningkat. Hal ini mendorong peningkatan layanan pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak menjadi perhatian utama. Pada tahun 2011, diperkirakan terdapat 8.170 ibu hamil yang positif HIV di Indonesia (Kemkes, Model Matematika Epidemi HIV di Indonesia, 2008-2014). Makin meningkatnya jumlah kasus HIV dan AIDS pada perempuan, yang tidak berperilaku seksual berisiko tinggi namun tertular HIV dari pasangan tetapnya yang berperilaku seksual beresiko tinggi amat memprihatinkan. Situasi ini menempatkan anak pada posisi rentan terhadap HIV dan AIDS dari orang tuanya yang mengidap HIV dan AIDS dalam proses persalinan, menyusui, dan melalui media lain seperti transfusi darah. Oleh karena itu, saat ini program-program ditujukan khususnya untuk menyasar pada penguatan hak-hak reproduksi dan penguatan posisi tawar perempuan. Perempuan berhak mendapatkan informasi dan pelayanan yang adekuat mengenai hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan dan organ reproduksinya, dan perempuan diharapkan sadar serta mengerti benar akan hak-hak reproduksinya (Buku Pedoman HAS, 2012).

Data-data di atas sudah cukup jelas memaparkan secara singkat bagaimana kondisi penyebaran dan penularan HIV dan AIDS di Indonesia, khususnya kalangan perempuan dan anak. Akankah kawan-kawan sebagai remaja akan diam saja? Akankah kawan-kawan terus berpangku tangan melihat kejadian ini? Kami yakin, kawan-kawan adalah remaja yang memiliki kepedulian tinggi untuk turut serta memerangi HIV dan AIDS. Apapun latar belakang kawan-kawan, dari golongan apapun, kami yakin kawan-kawan sebagai remaja yang memiliki kepedulian tinggi mampu membantu menyebarkan informasi yang benar mengenai HIV dan AIDS kepada orang-orang di sekitar kawan-kawan. Bagaimana cara memulainya?

Kawan-kawan bisa memulai dengan mengumpulkan informasi yang benar mengenai HIV dan AIDS. Apabila kawan-kawan adalah remaja sekolah yang mengikuti ekstrakurikuler atau komunitas yang peduli tentang HIV dan AIDS, itu merupakan langkah awal yang sangat baik sekali. Tapi tenang, apabila kawan-kawan tidak termasuk dalam kelompok tersebut, kawan-kawan bisa memanfaatkan teknologi untuk mencari informasi tentang HIV dan AIDS di dunia maya (dunia internet). Cara lainnya, kawan-kawan bisa menanyakan informasi kepada kelompok yang peduli tentang HIV dan AIDS (contohnya seperti KISARA). Banyak lagi cara lainnya, asalkan kawan-kawan sebagai remaja memiliki kemauan yang tinggi dan kepedulian yang tinggi. Selanjutnya dengan berbagi informasi yang dimulai dari lingkungan keluarga, kerabat terdekat, atau barangkali lingkungan sekolah/kampus.

Kini semua usaha tergantung dari kemauan, kepedulian, dan kesungguhan kawan-kawan sebagai remaja. Buktikan pada orang di sekitar kawan-kawan bahwa kalian adalah remaja yang mampu mengubah dunia, mampu memberikan kontribusi pada bangsa melalui kepedulian sosial?walau dalam lingkup kecil. Jangan pernah berpikir akan hasil yang kawan-kawan dapat dalam waktu dekat atau mengharapkan materi yang lebih, berpikirlah bagaimana pengalaman hidup yang mampu mengubah hidup kawan-kawan kelak.

Kita tidak bisa bergantung pada pemerintah untuk menangani masalah HIV dan AIDS yang semakin pelik. Bahkan perkiraan akan semakin meningkatnya angka kejadian HIV dan AIDS di tahun mendatang terus terjadi. Oleh karena itu, peran serta masyarakat dan kawan-kawanlah sebagai remaja yang juga bagian dari masyarakat, seharusnya turut membantu memerangi HIV dan AIDS. Akhir kata, kami dari KISARA siap membantu kawan-kawan yang memiliki kemauan, kepedulian, dan kesungguhan untuk memerangi HIV dan AIDS. Pintu kami terbuka lebar untuk bersama-sama beradvokasi dan melindungi ODHA dari diskriminasi. VIVA YOUTH!

Sumber:

  • Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia. 2012. Pedoman Pelaksanaan Hari AIDS Sedunia Tahun 2012.
  • PKBI DIY. 2000. Tanya Jawab Seputaran Seksualitas Remaja. Yogyakarta: Lentera Sahaja

Leave a Replay

1 thought on “REMAJA BISA APA SIH UNTUK MEMERANGI HIV DAN AIDS?”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top