BeTe… Apaan sih ?

 1 (1)

BeTe alias Birahi Tinggi nggak laen nggak bukan adalah dorongan seksual. Kalo kita pernah BeTe, itu wajar aja, apalagi kita masih muda. Orang bilang darah muda tuh penuh gejolak, termasuk dalam hal gejolak dorongan seks. Iya kan ?

Soalnya begitu kita masuk masa pubertas, organ-organ reproduksi kita uda mulai matang. Itu semua nggak lepas dari pengaruh hormon-hormon seks. Kalo cowok lebih dipengaruhi oleh hormon testosteron sementara cewek lebih dipengaruhi oleh hormon esterogen dan progesteron. Sebagai bukti, cowok akan mengalami mimpi basah sedangkan cewek akan mengalami menstruasi. Sejak saat itu kita jadi makin sadar terhadap sensasi seksual yang kita alami. Cowok akan ereksi kalo ada stimulasi atau rangsangan yang menimbulkan sensasi seksual ini. Begitu juga cewek, bisa terangsang melalui stimulasi. Pada masa remaja sampai dewasa awal, dorongan seks ini memang sedang tinggi-tingginya, baik cowok maupun cewek. Meski demikian, besarnya dorongan seks ini bisa berubah-rubah, kadang kita merasa dorongan seks kita rendah (alias lagi “dingin” baik ama cewek atau cowok), kadang kita merasa BeTe banget. Lebih seru lagi, hormon-hormon yang mempengaruhi dorongan seks tadi juga berpengaruh pada syaraf yang mengatur emosi, dan membuat kita jadi punya perasaan tertarik secara seksual dengan orang lain. Perasaan ini yang bikin seseorang naksir orang lain, bahkan menjurus pengen meluk, mencium, dan seterusnya. Pokoknya, semua perilaku yang bertujuan mencapai kepuasan seksual. Nah, perilaku-perilaku yang diarahkan pada tujuan untuk mendapatkan kenikmatan/kepuasan seksual tuh disebut perilaku seksual.

Temen-temen pasti setuju kalo dorongan tuh butuh penyaluran. Ngomongin penyaluran dorongan seks, kita punya 2 pilihan. Pilihannya apa aja, ayo kita liat bareng-bareng!

1.      Dialihkan ke aktivitas lain

Bisa juga kok dorongan seks yang ada tuh dialihkan. Jadi dorongan seks yang ada disalurkan ke kegiatan-kegiatan yang bukan melulu kearah “ngeseks”. Dengan melakukan aktivitas bareng temen-temen, berorganisasi, mengembangkan hobi bersama temen, atau melakukan olahraga yang disukai. Dengan begitu, waktu, konsentrasi, dan energy kita lebih banyak tersita untuk aktivitas itu tadi. Kalo udah gitu sedikit banyak jadi ngga’ sempet lagi untuk mikir yang ngeres-ngeres. Atau mungkin ada yang justru tidurlah jalan keluarnya. Asal ngga’ trus keasyikan “main” sendiri di tempat tidur. Buat kamu mungkin punya cara sendiri untuk mengalihkan dorongan seks ini. Boleh-boleh aja kok, asalkan positif. Oke !

2.      Disalurkan lewat perilaku seksual

Penyaluran lewat perilaku seks ini masih bisa dibagi-bagi lho. Ini nih…

  • Disalurkan sendiri

Contohnya adalah berfantasi seksual alias ngelajor (ngelamun jorok bo’) atau masturbasi.

  • Dilakukan dengan orang lain

Misalnya gandengan tangan, ciuman, pelukan, bercumbu, ber-HUS (hubungan seksual), de el el. Aktivitas itu bisa dilakukan dengan pacar, teman, pekerja seks atau orang lain. Cuman masalahnya nggak segampang itu kita bisa menyalurkan dorongan seks kita. Iya dong, kan nggak semua orang oke dengan perilaku-perilaku seks seperti masturbasi dan HUS itu.

 

Trus gimana dong cara ngatasinya ??

Sabar…., ada masalah pasti ada jalan keluarnya, ya to ? kita bisa kok mengelola dorongan seks yang ada. Wah…, kaya’ perusahaan aja perlu dikelola segala. Jadi gimana dong ?

Gini…., kita udah tau bahwa dorongan seks bisa disalurkan lewat berbagai macam cara. Nah kita musti sadar juga, bahwa masing-masing perilaku tuh ada konsekuensinya. Baik konsekuensi positif maupun konsekuensi negatifnya. Dengan perilaku seks yang sama bisa jadi tiap orang akan menanggung konsekuensi secara berbeda-beda.

Yuk, kita telusuri tabel dibawah ini….

PERILAKU ENAKNYA NGGAK ENAKNYA
Nggak disalurin -Nggak merasa berdosa-Nggak bakal hamil

-Diterima di masyarakat

-Nggak ‘greng’
Pegangan tangan -Nggak bakal hamil-Diterima di masyarakat

-Aman

-Bosan-Ngga seru
Ciuman -Nggak hamil-Romantis

-Bisa dinikmatin

-Malu kalo ketauan-Merasa berdosa

-Bisa nularin penyakit

Masturbasi -Aman dari kehamilan-Bisa puas juga

-Aman dari IMS-HIV dan AIDS

-Merasa bersalah-Merasa berdosa

-Bisa lecet, infeksi bila menggunakan alat tidak steril

Petting *) -Bisa puas juga-Lebih ‘greng’ dibanding ciuman -Bisa menularkan IMS-Bisa menimbulkan lecet di kelamin

-Tidak dijamin nggak hamil

Hubungan seks -Paling “heboh”!-Variasi banyak

-Sensasi paling ‘greng’

-Risiko hamil, besar-Risiko tertular Infeksi Menular Seksual (IMS)

-Risiko dicela masyarakat

*) petting: saling menggesekkan alat kelamin, dengan atau tanpa pembatas, untuk mencapai kenikmatan seksual.

Ini sebagai gambaran tentang enak nggak enaknya berbagai macam piliha perilaku buat nyalurin dorongan seks.

 

Aduh, milihnya gimana nih……

  • Cari info sebanyak-banyaknya tentang masalah seksualitas dari sumber yang dapat dipercaya. Misalnya dari guru, ahli seksualitas, atau dari buku-buku. Buka dari BF, bukan pula dari stensilan lho. Soalnya info dari sumber-sumber itu lebih sering salahnya daripada benernya.
  • Kalo udah dapet info, putusin mau milih yang mana. Trus, siap nggak dengan risikonya. Kalo nggak siap ya nggak perlu maksa dilakuin kan.
  • Ada perasaan bersalah nggak sih kalo dilakuin. Gimana perasaan kita, nyaman nggak ? enjoy nggak ? misalnya melakukan masturbasi, kalo kita ragu, belum mantap dengan perilaku seks ini, kita bisa mencari tahu dulu, bisa baca-baca buku tentang hokum agama sesuai dengan keyakinan kita, bisa juga nanya ke ahlinya. Supaya terhindari dari perasaan bersalah dan berdosa, yaaa.. kita hindari perilaku seks yang bertentangan dengan nilai kita.
  • Pikirkan pandangan masyarakat. Kita perlu lho mikirin risiko social, yaitu risiko yang akan kita terima kalo perilaku seks kita tidak sesuai dengan norma masyarakat. Makanya ada baiknya kita pertimbangkan dulu apakah perilaku seks kita merugikan lingkungan/orang lain dan kemungkinan menimbulkan konflik nilai di lingkungan kita.
  • Gimana kalo orang tua tau apa perilaku seks yang kita pilih. Perlu juga lho mempertimbangkan nasiihat orang tua atau rambu-rambu dari orang tua.

 

So, nggak ada yang merasa rugi. Iya kan ?  😀

Leave a Replay

1 thought on “BeTe… Apaan sih ?”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top