MINI-SURVEI KISARA #1: ANALISIS PEMAHAMAN REMAJA TERHADAP HAK KESEHATAN SEKSUAL DAN REPRODUKSI (HKSR)

Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR) merupakan topik yang masih hangat untuk diperbincangkan, banyak mata yang menyaksikan bagaimana sepak terjang HKSR di Indonesia. Mayoritas tatanan normatif menganggap HKSR sebagai sesuatu yang tabu untuk dibahas, bahkan beberapa pendapat menyatakan bahwa hak tersebut tak wajar dimunculkan di muka publik. Namun, jika berkaca pada fakta yang ada, seksualitas dan reproduksi merupakan pengalaman yang setiap individu alami. Pengetahuan akan HKSR dapat menguntungkan di masa depan, meskipun tidak merubah secara signifikan, namun individu dapat hidup dengan sejahtera karena hak-hak seksualnya terpenuhi secara aktif

Masalah kesehatan seksual dan reproduksi di Indonesia sendiri sudah sangat memprihatinkan, BKKBN menyebutkan bahwa kasus Kehamilan Tak Diinginkan (KTD) pada remaja (usia 14-19 tahun) mencapai 19,6% kasus dan sekitar 20% kasus aborsi, hasil ini menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan semenjak tahun 2016 (BKKBN dalam Khandefa & Riyaldi, 2023). Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa 33,76% pemuda di Indonesia mencatatkan usia kawin pertamanya di rentang usia 19-21 tahun pada 2022. Kemudian, sebanyak 27,07% pemuda di dalam negeri memiliki usia menikah pertama pada rentan usia 22-24 tahun, selain itu sebesar 19,24% pemuda yang pertama kali menikah saat berusia 16-18 tahun (BKKBN, 2023). Lebih lanjut Pengadilan Agama Indonesia pada tahun 2022 mencatat 55 ribu pengajuan permohonan menikah pada usia anak, laporan ini didominasi oleh pemohon perempuan sudah hamil terlebih dahulu dan faktor dorongan dari orang tua yang menginginkan anak mereka segera menikah karena sudah memiliki teman dekat atau pacaran (Kemenpppa, 2023).

Data di atas merupakan buah dari kurangnya pemahaman remaja akan HKSR, minimnya pengetahuan serta sedikit akses informasi menyebabkan remaja sering membuat pilihan yang salah. Berdasarkan masalah tersebut, Kisara telah melakukan mini survei terkait pemahaman remaja terhadap HKSR. Mini survei merupakan salah satu program reguler dari divisi RDA (Research Data & Advocacy), dalam hal ini dilaksanakan untuk mengetahui perkembangan sekaligus menyesuaikan intervensi yang mungkin diberikan oleh Kisara PKBI Bali melalui implementasi program-programnya. Partisipan dalam survei ini berusia 14-24 tahun, dengan persentase perempuan sebanyak 69,8%, dibanding laki-laki yang berjumlah 30,2%. Hasil survei akan dijabarkan dengan diagram berskala 100% serta jawaban terbanyak dari setiap poin yang ada. 

Pada poin pertama sebanyak 96,2% partisipan pernah mendengar atau mengetahui beberapa hal terkait kesehatan reproduksi atau kesehatan seksual, selain itu mereka juga mengetahui penyakit apa saja yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi atau kesehatan seksual. Sedangkan sebanyak 3,8% tidak pernah mendengar ataupun mengetahui hal terkait kesehatan reproduksi atau kesehatan seksual maupun penyakit yang berkaitan dengan topik tersebut

Selanjutnya, sebanyak 92,5% partisipan pernah membahas hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi atau kesehatan seksual di lingkungannya, sedangkan 7,5% tidak pernah membahas hal tersebut di lingkungannya

Pada point berikutnya sebanyak 37,7% partisipan menanyakan sering membahas hal yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi atau kesehatan seksual, 58.5% lainnya menyatakan jarang membahas hal tersebut di lingkungan sosial meraka, dan 3,8% sisanya menyatakan tidak pernah membahas hal tersebut

Lebih lanjut, 94,6% partisipan sudah mengetahui cara penanggulangan atau pencegahan penyakit yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi atau kesehatan seksual, sedangkan 5,7% sisanya menyatakan belum mengetahui informasi tersebut

Pada point selanjutnya, sebanyak 90,6% partisipan sudah pernah mendapat edukasi atau penyuluhan tentang kesehatan reproduksi atau kesehatan seksual, namun 9,4% lainnya menyatakan belum mendapat edukasi atau penyuluhan

Pada poin berikutnya, sebanyak 47,2% partisipan menyatakan sering mendapat edukasi atau penyuluhan terkait kesehatan reproduksi atau kesehatan seksual, sedangkan 43,4% lainnya mengatakan jarang mendapatkan edukasi terkait hal tersebut, dan 9,4% sisanya mengatakan tidak pernah mendapat edukasi atau penyuluhan tentang kesehatan reproduksi atau kesehatan seksual

Pada poin sumber informasi, sebanyak 83% partisipan berpendapat bahwa mereka lebih banyak mendapat edukasi atau informasi terkait kesehatan reproduksi atau kesehatan seksual dari media sosial, dan 75,5% partisipan lainnya menyatakan mendapat edukasi dari lingkungan sosialnya, pembahasan kesehatan reproduksi atau kesehatan seksual di lingkungan keluarga ada sebanyak 32.1% partisipan, dan dari media cetak hanya mencapai 9,4% partisipan

Pada point berikutnya, sebanyak 79,3% partisipan menyatakan sudah pernah mendengar tentang Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR), sedangkan 20,7% lainnya menyatakan belum pernah

Sama halnya dengan point sumber informasi, media sosial juga menjadi sumber informasi dan edukasi terkait topik HKSR dengan persentase sebanyak 81,1%, mendapat informasi atau edukasi melalui media sosial, pembahasan atau edukasi topik HKSR di lingkungan sosial ada sebanyak 43,4%, lalu pembahasan pada lingkungan keluarga sebanyak 17%, dan dari media cetak hanya 3,8%

Lebih lanjut, pada point pendapat tentang Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR), mayoritas memiliki jawaban yang benar dan sesuai dengan definisi umum HKSR, seperti: “Hak untuk mendapatkan informasi dan layanan terkait kesehatan seksual dan reproduksi, Menjaga tubuh, HAM yang berhubungan dengan seksualitas., Sesuatu hal yg penting dan menjadi hak bagi semua orang khususnya di kesehatan seksual dan reproduksi”

Pada point pemenuhan Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR), mayoritas jawaban menyatakan setuju bahwa pemenuhan HKSR merupakan hal yang penting, selain itu terdapat juga pendapat lain, seperti:”Karena terkait dengan bagaimana kita menjamin keberlangsungan hidup manusia dari generasi ke generasi hingga generasi berikutnya bisa lebih berkualitas dibanding dengan generasi pada saat ini, Dengan mengenal dan memahami hak seksual dan reproduksi kita, maka kita bisa melindungi, memperjuangkan dan membela hak seksual dan reproduksi kita dan orang lain, dan Menurut saya sangat penting karena memicu akan adanya hak kesehatan dalam kehidupan seksual dan reproduksi.” 

Lebih lanjut pada point dampak pemenuhan, mayoritas partisipan setuju jika tidak adanya aeman Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR) secara menyeluruh akan membawa dan menimbulkan masalah di kemudian, beberapa pendapat yang setuju, seperti:”Banyak penyakit seksual menular yang mengakibatkan tidak bisa bereproduksi, Ketidakjenuhan Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR) seseorang dapat memiliki konsekuensi yang serius terhadap kesehatan fisik, mental, emosional, dan sosial individu tersebut, dan Seseorang akan tidak memiliki pengetahuan atau informasi mengenai kesehatan reproduksi serta kemungkinan dapat tertular penyakit yang menyerang organ reproduksi

Pada poin berikutnya, sebanyak 44,6% partisipan merasa bahwa Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR) sudah terpenuhi dan 55,4% lainnya merasa belum atau tidak tahu, dengan beberapa pendapat seperti: “Sudah, karena di sekolah saya selalu ada sosialisasi untuk hak kesehatan seksual dan reproduksi, Sudah terpenuhi namun tidak semuanya, dikarenakan kita sebagai manusia tentu tidak akan luput dari hal hal negatif yang dipengaruhi oleh lingkungan sekitar kita. Hak hak saya dalam HKSR bisa dibilang belum dipenuhi dalam hak kesetaraan dan bebas dari segala bentuk diskriminasi, dan Menurut saya sudah, karena beberapa kali sudah sempat mendapatkan edukasi terkait baik dari keluarga, sekolah, bahkan sosial media

Pada poin terakhir, sebanyak 72% lainnya terasa sejauh ini orang lain sudah menghargai hak tersebut. Namun 28% partisipan lainnya merasa bahwa orang lain masih belum menghargai Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR) yang mereka miliki, dengan beberapa pendapat seperti “Setiap orang harus menghargai hak yang telah kita punya, karena jika tidak orang tersebut bisa terkena pasal 71 UU No 36 2009 tentang kesehatan, Orang orang yang ada di sekitar saya sangat menghargai Hak kesehatan seksual dan reproduksi yang saya miliki, dan Kalau di lingkungan saya mungkin ada beberapa orang terutama laki laki yang belum bisa menghargai hak kesehatan dan reproduksi saya

Data survei menjelaskan bahwa masih ada beberapa kelompok partisipan yang belum mendapat akses pengetahuan seksual dan reproduksi, sebagian lainnya bahkan jarang pembahasannya. Tingginya akses informasi memang mempermudah partisipan mendapat pengetahuan seksual dan reproduksi, hanya saja tetap diperlukan adanya bimbingan dan pengawasan dari pihak yang berwenang akan hal ini. Data ini juga sesuai dengan PKBI (2019) yang menjelaskan bahwa derasnya informasi yang diterima partisipan dari berbagai media massa memperbesar kemungkinan partisipan melakukan praktik seksual yang tidak sehat, perilaku seks pranikah, dengan satu atau berganti pasangan. Saat ini, kekurangan informasi yang benar tentang masalah seks akan memperkuatkan kemungkinan partisipan percaya dengan kesalahpahaman yang diambil dari media massa dan teman sebaya. Akibatnya, kaum partisipan masuk ke kaum berisiko melakukan perilaku berbahaya untuk kesehatannya. Tingkat pengetahuan partisipan di Indonesia tentang kesehatan reproduksi masih rendah, khususnya dalam hal cara-cara melindungi diri terhadap risiko kesehatan reproduksi, seperti pencegahan KTD (Kehamilan yang Tidak Diinginkan), IMS (Infeksi Menular Seksual), dan HIV (Human Immunodeficiency Virus) serta AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome).

Kisara secara aktif melakukan edukasi dan pemberian informasi terkait Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR) secara masif mellui plaform yang ada, seperi: siaran radio, penyuluhan ke sekolah-sekolah, seminar secara daring, termasuk juga pemberian informasi melalui media sosial milik Kisara. Besar harapan kami kedepannya semakin banyak remaja yang tahu akan HKSR, sekaligus perubahan-perubahan baik yang akan terjadi pada remaja

DAFTAR PUSTAKA
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional. (2023). https://ntb.bkkbn.go.id/?p=3527. Bkkbn.go.id. https://ntb.bkkbn.go.id/?p=3527
Farhan, K., & Kasmanto, R. (2023). PUBLIC SPHARE: FENOMENA ABORSI DI LINGKUNGAN KAMPUS A DAN B PADA MAHASISWI (STUDI KASUS PERILAKU X DAN Y) KATA KUNCI. https://jurnal.penerbitwidina.com/index.php/JPS/article/download/431/319
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. (2023). KEMENTERIAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK. Kemenpppa.go.id. https://kemenpppa.go.id/index.php/page/read/29/4357/kemen-pppa-perkawinan-anak-di-indonesia-sudah-mengkhawatirkan
Nuzuli. (2019, July 19). PKBI Adakan Nonton Bareng dan Diskusi Film Dua Garis Biru | PKBI. Pkbi.or.id. https://pkbi.or.id/pkbi-adakan-nonton-bareng-dan-diskusi-film-dua-garis-biru/
Zakiah. (2018). PENDIDIKAN SEX UNTUK REMAJA. Sumbarprov.go.id. https://sumbarprov.go.id/home/news/14030-pendidikan-sex-untuk-remaja

Viva Youth Viva Kisara!
Tim RDA (Research Data and Advocacy)

Leave a Replay

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top